Nuri Ingin Terbang Tinggi | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia
Nuri Ingin Terbang Tinggi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on November 21, 2016 Rating: 4,5

Nuri Ingin Terbang Tinggi

SEEKOR burung nuri kecil yang cantik ingin sekali belajar terbang. Ia tinggal di sarang yang terbuat dari rangkaian rumput kering yang bertengger di dahan pohon mahoni tinggi. Dari sarang itulah Nuri sering melihat ayah, ibu, paman, dan burung-burung lain terbang melayang di angkasa, hinggap dari satu pohon ke pohon lain. Nuri kecil ingin sekali bisa terbang seperti mereka.

Nuri lalu meminta pada Ibu untuk mengajarinya terbang, tapi ibu menolak.

“Jangan sekarang, belum waktumu. Sayapmu belum kuat untuk terbang,” kata Ibu.

“Tapi Ibu, sayapku telah tumbuh sempurna, sama seperti sayap burung nuri lainnya. Lihat ini, Ibu, aku sudah bisa mengepakkan sayap,” kata Nuri mencoba meyakinkan sang ibu sambil membentangkan sayap layaknya burung sedang terbang. Pada saat bersamaan, angin bertiup kencang hingga membuat tubuh Nuri terhuyung.

“Ibuuuu…toloong. Aku mau jatuh!” Nuri berteriak ketika tubuhnya berada di pinggir sarang. Beruntunglah Ibu sigap mencengkeram tubuh Nuri, sehingga burung kecil itu terhindar dari jatuh.

“Apa Ibu bilang, belum waktumu untuk belajar terbang. Kau belum mampu menjaga keseimbangan tubuh,” kata Ibu.

Nuri terdiam, membenarkan ucapan sang ibu. Namun, keinginannya untuk belajar terbang masih memenuhi pikirannya.

“Tapi aku ingin belajar terbang, Ibu!” kata Nuri lagi.

“Tidak,” sergah Ibu.

“Sudah, jangan bicarakan hal itu lagi. Sekarang ibu hendak mencari cacing untuk makan siangmu. Dan selama ibu pergi, kau jangan melakukan hal-hal membahayakan ya,” kata Ibu, lalu terbang menjauh.

***
Ibu telah keluar sarang. Sekarang saat yang tepat untuk melaksanakan rencana. Nuri lalu membentangkan kedua sayap dan memulai menghitung, satu, dua, tiga… Nuri melompat dari sarangnya, lalu mengepakkan kedua sayapnya dengan cepat.

“Terbang, ayo terbang,” kata Nuri sambil terus mempercepat kepakan sayapnya. Tetapi, tubuhnya begitu cepat meluncur ke bawah. Buk, buk! Tubuh Nuri jatuh dan berguling di rerumputan.

“Aduh, tubuhku pegal semua,” seru Nuri meringis kesakitan.

Tiba-tiba Nuri melihat seekor anjing liar kecil di dekatnya. Anjing itu menatap tajam pada Nuri.

“Oh, tidak. Anjing itu akan menyerangku. Aku harus menyelamatkan diri,” kata Nuri dalam hati.

Anjing itu melompat hendak menerkam Nuri. Tapi Nuri telah bertindak sigap, ia berlari sekuat tenaga. Tanpa sengaja Nuri mengepakkan kedua sayapnya begitu cepat, sehingga tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas rerumputan.

“Hei, aku bisa terbang. Aku bisa terbang! Asyiiiik aku bisa terbaaang,” seru Nuri begitu bahagia. Ia terbang lebih tinggi, sehingga anjing liar itu tidak bisa mengejarnya.

“Aku akan bercerita pada Ibu kalau aku bisa terbang,” kata Nuri dalam hati.

***
Sore telah tiba. Ibu sudah kembali di sarangnya. Nuri pun bercerita dengan penuh semangat kejadian yang dialaminya tadi siang.

“Ibu, aku sudah bisa terbang,” kata Nuri.

“Nuri, kau masih membicarakan hal itu lagi?” sahut Ibu.

“Bila Ibu tidak percaya, coba lihatlah. Aku akan terbang,” seketika Nuri melompat sambil mengepakkan kedua sayap. Tubuhnya meluncur ke bawah dengan cepat. “Terbang! Sayap, terbanglah!” teriak Nuri.

Tapi, kedua sayapnya tak mampu membuatnya bisa terbang.

Buk, buk! Tubuh Nuri jatuh di rerumputan. Ibu lalu terbang meluncur ke bawah.

“Nuri, ibu sudah bilang, tapi kau masih saja tak percaya,” lalu Ibu mencengkeram tubuh Nuri dan membawanya terbang kembali ke sarang.

“Aduh, sayapku sakit, Ibu,” kata Nuri merintih kesakitan.

“Tulang sayapmu mungkin retak, anakku. Tunggulah, ibu akan memanggilkan Dokter Gagak untukmu,” kata Ibu lalu terbang.

Sesaat kemudian datanglah Paman Merpati.

“Tadi Ibu meminta paman untuk menjagamu. Apa yang terjadi denganmu, Nuri?” tanya Paman Merpati.

Nuri lalu menceritakan apa yang telah terjadi.

“Tuhan telah menolongmu dan juga menegurmu,” kata Paman Merpati.

“Apa maksud Paman?” sahut Nuri tak mengerti.

“Kau bisa terbang saat dikejar anjing liar karena Tuhan telah menolongmu. Tulang sayapmu retak karena Tuhan telah menegurmu. Seharusnya kau menurut kata-kata ibumu, bahwa kau belum boleh belajar terbang. Tapi kau memaksa untuk belajar terbang, sedangkan sayapmu belum kuat untuk terbang. Mengapa kau tidak menuruti kata-kata ibumu?”

“Kau benar, Paman. Nuri yang salah. Nuri menyesal sekali tidak menuruti kata-kata ibu,” kata Nuri.

“Kau harus memohon ampun pada Tuhan dan meminta maaf pada ibumu, bahwa kau tak akan menentang kata-kata ibumu lagi,” sahut Paman Merpati.

“Ya, Paman. Terima kasih atas nasihatmu ini,” jawab Nuri menyesali perbuatannya.

Nuri ingin meminta maaf pada Ibu dan berjanji akan patuh serta menuruti nasihat Ibu. 


Rujukan
[1] Disalin dari karya Sulistiyo Suparno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" 20 November 2016

0 Response to "Nuri Ingin Terbang Tinggi"