Bambu Kuning Tak Cantik Lagi | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia
Bambu Kuning Tak Cantik Lagi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on May 22, 2017 Rating: 4,5

Bambu Kuning Tak Cantik Lagi

“BAMBU yang cantik, bolehkah kuambil batangmu yang kecil untuk aku jadikan seruling?” tanyaAndi kepada serumpun bambu kuning yang tumbuh di tengah hutan Desa Barumbung. Rumpun bambu kuning tumbuh indah di sekitar tanaman lainnya di hutan tersebut. Karena keindahan rumpun batangnya, batang bambu ini sering dimanfaatkan warga sekitar untuk berbagai keperluan.

“Oh..silakan Andi, jangankan batangku yang kecil, batang yang besar pun aku rela menyerahkannya,” demikian jawab bambu kuning.

“Aku senang bila diriku dapat bermanfaat bagi orang lain,” jelas bambu kuning lagi.

“Terima kasih bambu kuning, aku ambil batang kecilmu ya, dan kudoakan semoga Tuhan menggantikan batang-batang baru yang lebih indah padamu,” jawab Andi sambil mengibaskan golok kecil menebang batang bambu yang diinginkannya untuk dijadikan seruling yang akan ditiupnya saat menggembala kerbau miliknya.

Bambu kuning bukannya bersedih karena batangnya berkurang, tetapi malah bersyukur karena masih mampu berbuat dan memberi kebaikan bagi sesama. Selang beberapa langkah kepergian Andi, datanglah beberapa warga kampung sambil membawa golok di tangannya.

“Ada apa ini?” tanya bambu kuning dalam hati.

“Di mana kita bisa mendapatkan kayu yang kokoh Pak Jaka. Kayu-kayu besar di hutan ini sudah habis kita tebang dan kita jadikan rumah, padahal kita memerlukan beberapa batang kayu untuk mengganti jembatan penghubung desa kita dengan Desa Baringring,” kata Pak Abu pada Pak Jaka.

“Wah, iya ya…ternyata batang pohon yang besar sudah tak ada lagi, pantas saja desa kita diterjang banjir dan jembatan kita hanyut,” jawab Pak Jaka.

“Kasihan anak-anak yang mau bersekolah ke Desa Baringring, lantas lewat mana nanti?” kata Pak Tono.

“Ayo Pak, kita cari lagi kayu yang besar di dalam hutan ini,” kata bapak yang lainnya.

Bambu kuning mendengarkan percakapan bapak-bapak tadi dan berkata dalam hati, “Wah, kasihan sekali anak-anak dan warga desa ini ya, pastinya mereka harus memutar jalan cukup jauh untuk menuju Desa Baringring.”

“Bapak-bapak….kemarilah!”seru bambu kuning.

“Aku punya batang-batang yang cukup besar dan kuat. Walau tak sebesar pohon jati yang kalian inginkan, bila kalian ikat jadi satu batangku cukup kuat untuk kalian lalui,” lanjut bambu kuning.

“Ayo…ambillah batang-batangku Pak, aku ikhlas memberikannya,” kata bambu kuning.

Bapak-bapak tadi berhenti sejenak dan saling berpandangan, selanjutnya mendekat ke rerimbunan rumpun bambu kuning.

“Benarkah bambu kuning?” tanya Pak Abu.

“Kami butuh cukup banyak batangmu, bila kami ambil nanti apakah kamu tak takut rimbun batangmu menjadi jelek?” tanya Pak Jaka.

“Tidak bapak-bapak, aku senang bila tubuhku bermanfaat untuk orang banyak. Ambillah secukupnya, ambil batangku yang sudah besar dan kuat,” kata bambu kuning.

“Baiklah bambu kuning, kami akan mengambil batang-batangmu yang besar dan kuat,” kata Pak Abu.

“Terima kasih sekali bambu kuning,” kata bapak-bapak hampir bersamaan, dilanjutkan dengan mengayun golok-golok mereka menebas batang bambu kuning yang besar dan kuat.

Perbincangan Andi dan beberapa warga desa terhadap bambu kuning ternyata didengar oleh burung gagak hitam yang bertengger di atas pohon pisang. Burung gagak geleng-geleng kepala melihat sikap bambu kuning. Dia pun hinggap di pohon pisang lain yang dekat dengan rumpun bambu kuning. Sambil mengepakkan sayapnya gagak hitam berkata, “Bambu kuning… bambu kuning, kamu ini makhluk terbodoh di dunia.”

“Hai gagak hitam, apa kabar?” sapa bambu kuning dengan ramahnya.

“Apakah kau juga ingin mengambil daun-daunku yang kering untuk kau jadikan sarang telurmu, ambillah jika kau membutuhkannya!” bambu kuning menawarkan diri.

“Oh, tidak kuning, aku dan suamiku telah membuat sarang dari daun kering pohon pisang ini. Aku cuma heran terhadapmu kuning, kenapa kau relakan dan kau berikan batang-batangmu pada orang-orang tadi? Lihatlah, rumpunmu tak seindah dan sekuat kemarin,” lanjut gagak hitam.

“Apa kau tak melihat apa yang dilakukan mereka terhadapmu? Batang tubuhmu yang kecil digergaji dan dilubangi, apa kau tak merasa tersakiti? Tubuhmu yang besar dan kuat diikat dan diletakkan di atas sungai untuk diinjak-injak orang, ternak, dan lainnya? Batangmu yang kuat dipotong dan disayat tipis untuk dijadikan bakul tempat nasi yang panas, dijadikan caping pelindung kepala pak tani, disayat dianyam, dan dipaku sebagai dinding rumah mereka?” jelas gagak hitam tiada henti.

“Tapi gagak hitam, aku ingin menolong mereka, aku senang jika bisa bermanfaat untuk makhluk lain,” jelas bambu kuning.

“Ah kuning… kamu itu terlalu baik. Aku sebagai sahabatmu merasa sedih melihat dirimu tak secantik dulu lagi,” kata gagak hitam sambil terbang ke daun pisang yang lebih tinggi.

Bambu kuning tercenung dengan perkataan burung gagak hitam. Dia memandangi semua batang bambu yang tersisa. “Benar juga kata gagak hitam, aku tak secantik dulu lagi,” katanya dalam hati.

“Gagak hitam..gagak hitam,” panggilnya. Bambu kuning menangis terisak.

“Benar katamu gagak hitam, aku tak secantik dulu lagi. Lalu, apa yang harus aku lakukan supaya warga tak mengambil batang-batangku?” tanyanya.

“Caranya mudah kuning, jawab saja tidak boleh bila mereka akan mengambil batang-batangmu, dan bila mereka memaksa maka keraskanlah batangmu supaya golok mereka tak berhasil memotongmu, mudah kan?” kata gagakhitam. Bambu kuning menuruti kata-kata si gagak hitam.

Kini, tak seorang pun warga yang meminta batangnya, tidak seorang pun berhasil menebaskan golok-goloknya. Tubuh bambu kuning menjadi sangat besar dan keras. Warga hanya memanfaatkan batangnya yang roboh karena angin. Itu pun dikeluhkan warga, karena batang dan sayatannya mudah patah dan tak sekokoh dulu lagi.

***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga bulan berganti bulan, lama kelamaan rumpun bambu kuning menjadi tua dan kotor, karena tak ada warga yang mendekatinya lagi.

Batang pisang yang tumbuh di dekatnya tertawa mendengar keluhan bambu kuning yang sekarang dijauhi oleh warga desa. “Itulah balasan untukmu kuning. Saat kau berikan sebagian batangmu untuk dipergunakan manusia, Tuhan pasti akan menggantikannya dengan tunas-tunas muda yang cantik. Makin banyak batang tua yang kau berikan, makin banyak tunas yang tumbuh dan semakin cantik saja dirimu,” kata pohon pisang.

“Lihatlah diriku, aku ikhlas memberikan buah masakku untuk dimakan manusia, bungaku untuk sayur mereka, daunku untuk bungkus lauknya, tulang daunku untuk mainan anak-anak mereka, pelepah batangku untuk bakul hasil panen tembakau mereka. Aku senang melakukannya dan lihatlah rumpun pohonku jadi bersih, tunas-tunas baruku juga menjadi lebih banyak,” kata pohon pisang lagi.

Mendengar penjelasan pohon pisang, bambu kuning menitikkan air mata.

“Ya Tuhan, ternyata aku tak mensyukuri karunia-Mu. Aku menjadi makhluk pelit dan tak berguna. Dan aku telah termakan kata-kata yang tak baik dari gagak hitam,” katanya menyesali.

Dalam hati bambu kuning berjanji tak ingin mengulang sikapnya yang tidak baik ini. Dia menyadari bahwa sebaik-baiknya makhluk hidup adalah yang bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya. Setiap kebaikan pastilah akan mendapatkan imbalan kebaikan yang berlipat dari Tuhan.


Rujukan: 
[1] Disalin dari karya Ermin Siti Nurcholis
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" 21 Mei 2017

0 Response to "Bambu Kuning Tak Cantik Lagi"