Mimpi Sekejap | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia
Mimpi Sekejap Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on October 30, 2017 Rating: 4,5

Mimpi Sekejap

KAMIS malam Jumat, Akbar mengunjungi pengajian peringatan Isra Mikraj di mushala bersama Kak Yusuf. Tetangga rumah berbondong-bondong menuju mushala dengan membawa jajanan pasar. Bakda magrib acara dibuka dengan pembacaan surat Al-Fatihah. Akbar antusias mengikuti rangkaian acara meskipun didera kantuk.

“Kak, Kiai Hamzah kapan mulai ceritanya sih? Akbar mengantuk,” tanya Akbar ke Kak Yusuf.

“Sabar Akbar, kan baru saja dimulai,” jawab Kak Yusuf singkat.

Kiai Hamzah merupakan pemuka agama yang sangat disegani. Tausiyah yang disampaikan mudah dipahami dan mengena di hati. Akbar menantikan kisah-kisah yang biasa disampaikan ketika mengaji.

Akbar mengamati sekeliling ruang utama mushala. Orang-orang terlihat khusyuk merapalkan doa. Suasana yang khidmat membuat Akbar semakin mengantuk. Segera Kak Yusuf memintanya untuk mencuci muka. Akbar menuju tempat wudhu untuk mencuci muka dengan harapan kantuknya hilang.

Saat menuju ke tempat wudhu, tiba-tiba ada Raka yang mengajak Akbar untuk bergabung bermain gerobak sodor.

“Akbar main yuk. Gabung ke tim aku, kurang satu orang nih,” pinta Raka ke Akbar. Akbar pun tergiur untuk ikut bermain. Padahal Kak Yusuf sudah berpesan agar ia mengikuti pengajian hingga tuntas. Namun, untaian doa-doa yang mendayu serta suasana khidmat membuat kantuk semakin parah.

“Bosan menunggu lama, lebih baik ikut bermain saja,” bisik Akbar.

Akhirnya Akbar memutuskan untuk ikut bermain bergabung bersama tim Raka yang akan melawan tim Mario. Permainan dimulai, tim Raka yang akan berjaga dengan susunan Akbar-Rio-Arkhan-Raka.

Mudah saja bagi Akbar untuk mematikan lawan dengan menangkap si gembul, Naufal. Poin pertama untuk tim Raka disumbangkan oleh Akbar. Sementara kedudukan satu nol untuk kemenangan tim Raka atas tim Mario. Giliran tim Raka yang akan menjadi penyerang melewati penjaga untuk mencapai garis finish. Penyerang pertama adalah Akbar, ia dikenal sebagai pelari yang cepat. Tak heran lawan mewaspadai gerak-gerik Akbar. Tubuh mungilnya meliuk-liuk menghindari sergapan penjaga. Akbar pun mampu mencapai garis finis dan kembali menyumbangkan poin untuk tim Raka.

Sementara itu, Raka dan Rio masih terjebak dalam kepungan para penjaga. Gemuruh sorak anak-anak yang menonton membuat suasana menjadi tegang dan seru.

“Raka masuk ke kanan…kanan…kanan..awas ada Naufal…awas!” sorak salah satu penonton.

“Rio ayo ..cepat…cepat..cepat masuk… Awas..” teriak histeris para penonton.

Teriakan anak-anak ini terdengar hingga ke ruang utama mushala. Datanglah Pak Haji Salman di antara anak-anak tersebut. Mereka terkejut. Tatapan mata yang tajam, tangan berkacak pinggang serta kumis tebal melengkung ke atas menjadikan kesan garang. Seketika anak-anak tak berkutik. Mereka diam. Namun, rupanya Akbar tidak mengetahui kedatangan Pak Haji Salaman. Dengan semangat, ia masih terus berteriak, “Masuk kanan Ka..Raka ke kanan…kanan si Naufal…ayo masuk kanan…cepat…cepat!”

Arkhan segera memberi kode, tapi Akbar tak menghiraukannya hingga jeweran mengenai telinganya.

“Dasar anak-anak yang bandel. Sudah diperingatkan berkali-kali tetap saja teriak-teriak di mushala. Bermain boleh saja tapi nanti setelah pengajian. Mengganggu orang yang sedang beribadah itu tidak baik,” tegur Pak Haji Salman, Akbar pun terkejut dan mengerang kesakitan.

Dan… Jeweran Pak Haji Salman rupanya membangunkan Akbar dari mimpi buruk petang itu. Tidak ada Pak Haji Salman di sampingnya, tidak ada teman-teman di sekelilingnya.

Akbar terduduk di kursi tempat wudhu karena kantuk yang tak tertahan. Akbar lalu mengusap seluruh muka dengan air dan menutup keran air tersebut. Segera ia kembali ke ruang utama mushala karena suara merdu Kiai Hamzah mulai menggema di telinganya. Tidak akan ia lupakan mimpi sekejapnya itu. (58)

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Wahidatun Nisai Fauziyati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" 29 Oktober 2017

0 Response to "Mimpi Sekejap"