Pengalaman Berharga | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia
Pengalaman Berharga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on October 23, 2017 Rating: 4,5

Pengalaman Berharga

“MENGGAMBAR lagi menggambar lagi,” gerutu Nayla dengan muka masam.

Pelajaran yang sebagian besar anak-anak menyukainya, justru sangat tidak disukai oleh Nayla. Baginya, menggambar adalah sesuatu yang membosankan, tidak menarik, dan tidak ada manfaatnya. Berbeda halnya pelajaran Matematika, IPA, dan IPS. Tentu, karena Nayla selalu mendapat nilai mendekati sempurna dan terbaik di antara teman-temannya.

Sore ini Nayla kesal. Ia lagi-lagi mendapat tugas menggambar tentang cita-citanya. Ia ingin menjadi seorang dokter. Selain karena Mama dan Papanya berprofesi sebagai dokter, beberapa waktu yang lalu ia mendapat juara dalam ajang pemilihan dokter kecil. Namun, jangankan menggambar seorang dokter yang tengah memeriksa pasien, menggambar bunga saja peyot di mana-mana. Nayla selalu jadi bahan ejekan teman-temannya karena kelemahannya itu.

“Aha….” Nayla kemudian mendapatkan ide cemerlang.

“Ma, Mama bilang semua foto Mama waktu kecil sudah tidak bersisa karena musibah kebakaran, ya kan?” tanya Nayla mendekati Mama yang sedang membaca buku.

“Yap betul, terus?” tanya Mama.

“Nay ingin tahu wajah Mama waktu kecil seperti apa, Mama kan pintar menggambar. Mama gambar ya,” pinta Nayla.

“Kebetulan Mama sedang tidak begitu banyak pekerjaan, jadi bolehlah,” jawab Mama.

“Tapi gambarnya Mama pakai seragam dokter ya, seperti pekerjaan Mama sekarang,” jelas Nayla.

“Jadi cita-cita Mama waktu kecil nih?” tanya Mama.

Nayla mengangguk.

“Nay, Nay… Kamu aneh-aneh saja,” ujar Mama tanpa curiga.

Nayla tersenyum riang, ia terpaksa berbohong pada Mama karena jika jujur pasti Mama akan memaksanya untuk menggambar sendiri. Kini Nayla tidak lagi khawatir dan memikirkan hari esok, dan saatnya ia tertidur pulas.

***
SEPANJANG malam Nayla memimpikan Ibu Mariana yang memberikan nilai sempurna pada gambarnya. Teman-temannya pun bertepuk tangan bangga, hingga Nayla terbangun dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00.

“Aduh Nayla, maafin Mama. Semalam Mama membuatkan gambar yang kamu minta, Mama kesiangan dan terlambat membangunkanmu,” ucap Mama.

“Nggak apa-apa, Ma,” ujar Nayla sambil meraih handuk dan segera mandi.

Nayla pun hanya punya waktu meminum segelas susu tanpa sarapan. Ia tidak ingin terlambat di pelajaran Ibu Mariana. Benar saja, lima menit setelah ia datang, Ibu Mariana sudah menuju kelas.

Ibu Mariana meminta ketua kelas untuk mengumpulkan pekerjaan menggambar di meja guru. Setelah itu, satu per satu dari anak-anak dipanggil untuk kemudian menceritakan tentang gambar masing-masing. Ada yang ingin jadi pilot, guru, masinis, perawat bahkan artis. Kini giliran Nayla yang maju.

“Teman-teman, kalau aku besar nanti aku ingin jadi dokter. Dokter itu tugas yang mulia karena membantu orang yang sedang sakit. Ada macam-macam dokter di rumah sakit, dan Nayla ingin menjadi salah satunya. Nayla ingin jadi dokter gigi,” ujar Nayla bersemangat.

Namun bukannya tepuk tangan, beberapa temannya justru terlihat menertawakannya. Padahal, menurut Nayla, tidak ada yang lucu pada ceritanya.

“Nayla ingin jadi dokter gigi?” tanya Ibu Mariana.

Nayla mengangguk mantap.

“Tapi kenapa Nayla menggambar seperti ini?” tanya Ibu Mariana sambil menunjukkan gambar Nayla yang terpajang di papan tulis.

Tampak di buku gambarnya, seorang anak kecil dengan baju dokter memegang patung organ dalam manusia, ada jantung, hati, dan paru-paru. Nayla tersentak kaget.

“Itu bukan punya saya, Bu,” protes Nayla.

“Gambar Nayla kan biasanya jelek, pasti itu yang menggambar orang lain, bukan Nayla,” teriak Ody.

“Huuuu…. Katanya peringkat pertama, juara dokter kecil lagi, tapi kok nggak jujur,” timpal Angga.

Muka Nayla memerah, Ibu Mariana segera mengalihkan perhatian anak-anak pada tugas berikutnya. Nayla menangis sejadi-jadinya di kantor guru, ia meminta maaf pada Ibu Mariana dan menjelaskan jika gambar yang dikumpulkan memang benar bukan hasil karyanya. Karena malu kembali ke kelas, Nayla akhirnya meminta izin untuk pulang. Mama yang hari ini bebas tugas kaget melihat Nayla pulang lebih awal dengan wajah pucat.

“Nayla sakit?” tanya Mama.

Nayla menangis dipelukan Mama, ia kemudian menjelaskan apa yang terjadi di sekolah.

“Maaf sayang, Mama tidak bermaksud untuk mempermalukan Nayla. Memang sekarang Mama berprofesi sebagai dokter gigi, tapi cita-cita Mama sejak kecil sebetulnya adalah jadi dokter bedah. Makanya Mama menggambar seperti itu,” ujar Mama.

“Iya, Ma, Nayla yang salah. Nayla minta maaf karena sudah berbohong,” ucap Nayla sambil terisak.

Sambil mengusap rambut panjang Nayla yang tergerai, Mama mengangguk lalu memberinya nasihat.

“Tidak ada orang yang sempurna, Nak, pasti setiap orang punya kekurangan. Kalaupun Nayla pandai dan dapat peringkat pertama di kelas, tidak masalah kalau dalam hal menggambar Nayla kurang menguasai,” nasihat Mama.

Nayla lalu menghapus air matanya. Ia akan melupakan kejadian hari ini. Meskipun masih malu, ia tetap tersenyum saat bertemu teman-temannya.

Baginya, kejadian yang sudah berlalu bisa ia jadikan pengalaman berharga yang tidak akan dilupakan seumur hidupnya. (58)

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Rohmah Jimi Sholihah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" 22 Oktober 2017

0 Response to "Pengalaman Berharga"