Celengan Gajah | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia
Celengan Gajah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on November 14, 2017 Rating: 4,5

Celengan Gajah

BANU senang sekali mendapat hadiah berupa celengan gajah terbuat dari plastik. Ibu meminta Banu untuk menabung sisa uang saku ke dalamnya, sehingga uang celengan itu dapat digunakan untuk membeli barang yang diinginkan.

Anehnya, Banu selalu mengisi celengan itu dengan uang recehan. Jika uang saku sisa dua ribu, buru-buru dia akan menukarkan menjadi seribuan dua atau lima ratusan, barulah dimasukkan ke dalam celengan. Dia beranggapan bahwa uang recehan lebih tahan lama di dalam celengan daripada uang kertas.

“Wow, sepeda baru,” ucap Banu kagum melihat sepeda milik Roni.

“Aku membeli sepeda ini pakai uang tabunganku sendiri,” ucap Roni bangga.

“Benarkah?”

Banu semakin kagum pada Roni, karena temannya itu bisa membeli sepeda dengan uang tabungan sendiri. Sebenarnya Banu juga bisa membeli sepeda dengan uang celengan gajah miliknya yang semakin berat saja, tapi ia belum ingin sepeda baru. Banu masih memiliki sepeda lama yang masih bisa digunakan.

“Kamu juga bisa beli sepeda dengan uang celengan gajahmu,” ucap ibu mengagetkannya.

“Lihatlah, sepedamu sudah jelek. Gantilah yang baru. Ibu bersedia menambah uang tabunganmu jika kurang,” kata Ibu.

Banu menggelengkan kepala. Ia tidak mau beli sepeda baru. Ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan ibu tentang mau diapakan uang di celengan gajah miliknya. Banu hanya menjawab bahwa suatu hari pasti uang itu akan digunakan untuk hal yang lebih mulia.

“Lihatlah sepatu baruku,” ucap Rita memamerkan sepatu baru di depan Banu.

“Ini hasil tabunganku lho.”

“Aku juga beli tas baru dari uang tabunganku,” sahut Bagas tak mau kalah.

“Kalau kamu beli apa dari uang tabunganmu, Banu?”

Banu hanya menggelengkan kepala. Sementara ini dia tidak mau membeli apa pun.

“Katanya tasmu robek. Beli yang baru dong seperti punyaku,” kata Bagas teringat akan cerita Banu tentang tas yang robek.

Banu tersenyum mendengarnya. Dia pernah bercerita tentang tas robek pada Bagas, tapi tas miliknya sekarang sudah kembali seperti semula. Lubang di tas itu telah dijahit, sehingga bisa digunakan kembali.

***
TEMAN-TEMAN bersorak gembira mendengar Banu menang lomba balap sepeda antar-RT. Tepuk tangan riuh gembira menyambut kedatangan sang pemenang. Banu maju ke depan setelah namanya dipanggil sebagai juara kedua. Dia mendapatkan hadiah berupa trofi dan uang. Banu gembira tak terkira. Sepeda bututnya bisa menang juara.

“Hore! Kita makan-makan di rumah Banu,” teriak teman-teman Banu.

Ibu sudah mendengar dari Pak RT bahwa Banu menjadi juara kedua untuk lomba balap sepeda. Ibu telah menyiapkan nasi tumpeng untuk menyambut kedatangannya beserta teman-teman.

“Besok kita makan-makan lagi di luar. Bagaimana Banu?” usul Roni.

“Ya, Banu. Uang lombamu kan banyak. Kita gunakan makan-makan di luar. Aku pingin bakso Bang Toyib. Bagaimana?” ujar temannya yang lain.

“Ya, aku setuju. Besok kita makan bakso di warung Bang Toyib ya,” kata Tono.

“Maaf, teman-teman, bukankah kita sudah makan bersama di rumah,” kata Banu menengahi.

“Uang lomba itu tak seberapa. Lagian uang itu sudah kutabung.”

Tampak wajah kecewa teman-teman pendukungnya. Harapan mereka untuk makan bakso di warung Bang Toyib musnah sudah.

“Wah, Banu tidak seru. Pelit!” ucap Roni bergegas pergi disusul oleh teman-teman lainnya.

Banu terdiam membisu melihat satu per satu temannya meninggalkan dirinya. Banu tidak tahu harus berbuat apa. Uang lomba itu memang tidak seberapa. Kalau dipakai untuk makan bakso orang banyak bakalan habis.

Banu dapat apa? Banu terduduk lemas di kursi. Ibu mendekati Banu, duduk di sebelahnya. Ibu mencoba menghibur Banu bahwa teman sejati takkan mengharapkan apa-apa dari sahabatnya. Dia akan terus menemani temannya dalam suka ataupun duka. Bukan di saat gembira mereka berteman tapi di saat susah ditinggalkan begitu saja.

Sejak saat itu Roni tak pernah main ke rumah Banu. Padahal biasanya setiap sore mereka bermain sepeda di lapangan. Banu terlihat senang ketika melihat Roni dan teman-teman berada di lapangan. Mereka akan bertanding balap sepeda. Banu menemui mereka tapi entah kenapa mereka bubar setelah Banu datang. Banu tidak punya teman. Dia sendirian di lapangan.

Beberapa kali Banu memandang celengan gajah yang semakin berat. Ia tidak tahu mau buat apa isi celengan tersebut. Bisa saja Banu membeli semua mainan yang diinginkan, tapi itu pemborosan saja, batinnya.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh ibu yang tergopoh-gopoh memberi kabar bahwa rumah Roni terbakar. Banu melihat Roni menangis tersedu. Untuk sementara keluarga Roni tinggal di kantor kelurahan.

Beberapa tetangga mulai mengumpulkan bantuan untuk meringankan beban mereka. Banu tiba-tiba mengambil celengan gajah lalu bergegas ke kantor kelurahan. Banu memberikan celengan gajahnya kepada Roni.

“Aku tidak bisa memberikan bantuan apa pun. Aku hanya punya celengan gajah ini buat kamu,” kata Banu.

Roni terkejut dan menangis haru. Roni meminta maaf kepada Banu dan mengucapkan terima kasih. Mereka saling berpelukan. Akhirnya celengan gajah itu bisa digunakan untuk hal mulia. (58)

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Andriani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" 12 November 2017

0 Response to "Celengan Gajah"