Desa Pancasila | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia
Desa Pancasila Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on January 22, 2018 Rating: 4,5

Desa Pancasila

MINGGU kali ini, Lala, Lili, Ayah, dan Bunda dalam perjalanan menuju rumah Paman Ranu yang berada di Lamongan, Jawa Timur.

“Bunda, besok ke Wisata Bahari Lamongan, ya. Aku ingin main flying fox,” celetuk Lala.

“Ke Goa Maharani aja. Aku ingin lihat ular albino,” tukas Lili.

Lala melotot. “Tidak. Pokoknya ke Wisata Bahari Lamongan!”

“Goa Maharani. Titik!” Lili tak mau kalah.

Bunda geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua putrinya yang usianya hanya berselisih satu tahun itu.

“Kalian ini, apa nggak capek bertengkar terus?”Ayah yang sedang konsentrasi menyetir akhirnya angkat bicara.

Lala dan Lili diam sambil menekuk wajah.

Mobil yang dikemudikan ayah akhirnya sampai di rumah Paman Ranu. Paman Ranu menyambut dengan gembira.

“Lho, kenapa cemberut?” tanya paman Ranu saat menyalami Lala dan Lili.

“Biasa… adu mulut.” Ayah menceritakan penyebab pertengkaran mereka.

Paman Ranu manggut-manggut. “Begini aja, besok kalian ikut Paman ke Desa Pancasila.”

“Desa Pancasila?” tanya Lala dan Lili serempak. Mereka pun memberondong paman dengan pertanyaan.

“Lihat aja besok. Tidak seru kalau Paman cerita sekarang.”

Keesokan hari, Paman Ranu menepati janjinya. Kebetulan Desa Pancasila tak jauh dari rumah Paman Ranu.

“Kenapa namanya Desa Pancasila, Paman?” tanya Lili.

“Sebenarnya, Desa Pancasila yang berada di Kecamatan Turi ini bernama Desa Balun. Desa ini adalah sebuah perkampungan yang warganya tetap rukun meskipun memeluk agama yang berbeda,” jelas paman Ranu.

Tak berapa lama, mereka sampai di Desa Pancasila.

“Lho, masjid, gereja, dan pura kok dibangun berdekatan seperti itu, ya?” Lala melongo.

Paman Ranu mengangguk. “Inilah salah satu hal yang membuat Desa Baiun pantas menyandang nama Desa Pancasila. Selain ada tiga tempat ibadah dari agama yang berbeda dalam satu kompleks, warga desanya sangat menjunjung toleransi. Misalnya, umat Kristen dan Hindu rela menjaga parkir kendaraan hingga memastikan keamanan saat umat Islam melakukan takbir keliling. Dan, banyak contoh sikap toleransi lainnya di sini.”

Paman Ranu lalu berkata lagi, “Semua warga di sini saling menghormati dan menghargai perbedaan agama serta keyakinan yang dipeluknya. Berbeda pendapat itu biasa, tetapi menghargai orang lain itu luar biasa.”

“Dengar, tuh, Lala, Lili. Mereka semua warga di sini yang berbeda keyakinan dan latar belakang budayanya, bisa hidup rukun dan damai. Masa kalian yang saudara sekandung saja selalu tidak bisa akur?” Bunda menimpali.

Lala dan Lili tersipu. Mereka saling menoleh dan berpegangan tangan.

Pengalaman mengunjungi Desa Pancasila menyadarkan Lala dan Lili akan pentingnya hidup dengan rukun dan damai sesama umat manusia. 

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Elisa DS
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 21 Januari 2018

0 Response to "Desa Pancasila"