Tukik Pulau Sangalaki | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/KID

Tukik Pulau Sangalaki Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on January 08, 2018 Rating: 4,5

Tukik Pulau Sangalaki

WENDY beserta Kak Diva dan Papa Mamanya pergi berlibur ke Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur. Dengan menggunakan speedboat, pada sore hari menjelang malam, mereka tiba di Pulau Sangalaki. Mereka sekeluarga berencana menginap di sebuah resor di pulau tersebut.

“Yihuui…” Wendy bersorak gembira. Ia menanggalkan sandalnya di atas pasir. Ia ingin merasakan pasir pantai yang lembut. Meski hari sudah mulai malam, Wendi bersama Kak Diva tak sabar ingin bermain di tepi pantai.

Pasir di Pulau Sangalaki memang lembut dan bersih. Pasir tersebut cocok buat penyu betina untuk bertelur. Oleh sebab itu, penyu hijau suka bertelur di pulau ini.

Wendy dan Kak Diva lalu melihat seorang pria yang membawa ember berisi puluhan anak penyu (tukik). Dia adalah Pak Linu, petugas pos penangkaran penyu hijau di pulau itu.

“Wow…!” seru Wendy dan Kak Diva terkagum-kagum melihat tukik-tukik yang mungil itu.

“Adik-Adik, ayo kita bantu tukik-tukik ini untuk mencapai pantai,” ajak Pak Linu.

Wendy dan Kak Diva mengangguk. Wendy lalu berjongkok mengambil satu tukik. Kulit tukik itu berwarna hitam. “Hihii, lucunya mereka, Kak,” kata Wendy saking gemasnya.

“Pak, kok malam-malam baru melepas tukik?” tanya Kak Diva penasaran.

“Lebih bagus malam hari begini, Dik. Supaya mereka tidak dimangsa sama elang atau kepiting pada siang hari,” Pak Linu menjelaskan.

“Oh …” seru Kak Diva dan Wendi bersamaan.

Pak Linu lalu berkata kembali, “Tukik ini saat masih menjadi telur, juga sering menjadi incaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab.”

Wendy lalu teringat, Papa pernah bercerita bahwa dahulu telur penyu hijau ini banyak diperjualbelikan untuk dikonsumsi. Padahal, penyu merupakan hewan yang dilindungi.

“Jadi, kita tidak boleh makan telur penyu yaa, Pak?” sahut Kak Diva.

“Betul, Dik. Dengan tidak memakan telur penyu, berarti kita sudah ikut menjaga populasi penyu hijau ini,” jawab Pak Linu.

“Tukik, oh, tukik!” kata Wendy kepada si anak penyu yang digenggamnya. Ia lalu menurunkan tukik itu ke pasir. Secara naluri tukik bergerak menuju ke pantai.

“Kak, kayaknya aku mau membawa pulang beberapa bayi-bayi penyu ini. Aku mau pelihara di rumah,” ujar Wendy kemudian.

“Tapi, habitat penyu di laut, Wen! Kasihan mereka makin hari makin punah,” jawab Kak Diva.

Pak Linu lalu berkata, “Benar. Bahkan sekarang ini, untuk bertahan hidup di laut pun, peluang tukik semakin menipis. Karena itu, kita harus betul-betul menjaga binatang ini dari kepunahan.”

“Iya, sih.” Wendy mengangguk.

Wendy lalu melihat, beberapa tukik berhasil menyentuh bibir pantai lalu berenang di laut lepas. Dalam hatinya ia berjanji, untuk turut menjaga penyu-penyu hijau ini dari ancaman kepunahan. 

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Yessi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 7 Januari 2018

0 Response to "Tukik Pulau Sangalaki"