Ulangan Dion | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/KID

Ulangan Dion Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on April 30, 2018 Rating: 4,5

Ulangan Dion

PSST..., gimana? Sudah kamu persiapkan?” bisik Yogi di samping Dion. 

“Tenang saja. Semua sudah aku persiapkan,” bisik Dion pula. 

Yogi langsung mengembangkan senyumnya. Dilihatnya Bu Juhar masuk ke kelas dan kemudian membagikan kertas ulangan Matematika. Keributan kecil seketika memenuhi ruang kelas tiga. Setelah kertas ulangan dibagikan semua mulai khusuk mengerjakannya. Terlihat Dion dan Yogi saling melempar pandangan. 

Sebelum bel istirahat berbunyi, Dion dan Yogi telah selesai. Keduanya segera mengumpulkan hasil ulang- annya. 

“Kalian berdua hebat dan kompak, ya! Selalu bisa menyelesaikan ulangan dengat cepat,” kata Puguh ketika istirahat tiba. 

“Ya iyalah . Dion anaknya Bu Juhar. Malu dong, kalau Dion tidak tahu Matematika. Sementara ibunya guru Matematika. Benar kan, Dion?” sahut Yogi menyenggol pundak Dion. 

“Tapi meskipun Bu Juhar itu ibuku, belum tentu aku yang mendapatkan nilai tinggi,” ujar Dion merendah. 

“Tapi pada kenyataannya, kamu selalu mendapatkan nilai tertinggi,” ujar Puguh. 

Diam-diam Dion melirik Yogi dan mengedipkan sebelah matanya. Yogi yang mendapatkan isyarat tersenyum mengerti. 

Sore itu, Dion tengah asyik di depan komputer saat Bu Juhar masuk ke kamarnya. Ibu Dion hanya berdiri memperhatikannya.

“Ibu ada perlu sama Dion, ya?” tanya Dion. 

“Hm, kamu masih sibuk dengan game Angry Bird itu, Dion? Sudah sampai level berapa?” tanya Ibu tidak menghiraukan kata-kata Dion. 

“Ini yang tersulit, Bu,” sahut Dion lagi. 

“Hm, tingkat yang tersulit? Lebih sulit mana game Angry Bird dengan ulangan Matematika tadi?” 

Deg! Seketika hati Dion dag dig dug. Tidak biasanya ibunya menanyakan dan berbicara soal pelajaran yang satu itu. 

“E..., em....susah juga sih, Bu,” jawab Dion akhirnya. 

“Pantas saja kali ini jawabanmu salah semua. Apa Ibu yang kurang jelas saat memberikan penjelasan, ya?” 

“Eh, maksud Ibu, ulangan Dion salah semua?” tanya Dion terbelalak. 

Ibu hanya tersenyum. Kemudian kata Ibu lagi, “Padahal setiap kali Ibu memberi ulangan, nilai kamu selalu bagus. Meskipun kamu anak Ibu sendiri, Ibu tidak pernah membocorkan soal ulangan sehingga kamu mendapatkan nilai seratus. Tapi kali ini, kenapa nilaimu malah dapat telur bebek begitu, Dion?” 

Deg...deg...deg..., jantung Dion berdetak lebih cepat. Benarkah yang dikatakan Ibu tentang nilaiku, batin Dion panas dingin. Kalau nilai ulangan Dion jelek, otomatis nilai Yogi sama, dong? Pikirnya dengan perasaan yang sangat cemas. 

Pagi harinya, Dion menemui Yogi di kantin sekolah. Ia menceritakan semua pembicaraan dengan ibunya. Kontan Yogi terbelalak. 

“Kalau nilai ulanganmu jelek, berarti nilaiku juga sama, dong?” ujar Yogi khawatir. 

Tiba-tiba Yogi teringat sesuatu. Dia menarik tangan Dion masuk ke dalam kelas. Yogi meraba bawah laci bangkunya. Selembar kertas telah dipegangnya. 

“Dion, lihat ini! Tadi waktu menaruh tas, aku menemukannya. Bukankah ini jawaban yang sama seperti ulangan milik kita kemarin?” tanya Yogi menyodorkan kertas pada Dion. 

Dion memperhatikannya. Kemudian katanya, “Hei, ini ulangan anak kelas empat siang. Jadi, apa aku salah ambil kunci jawaban milik Ibu, ya?” 

Wajah Dion dan Yogi seketika pucat. Kelas Dion memang dipakai untuk anak kelas empat yang masuk siang. Jadi kemungkinan kemarin anak kelas empat ada ulangan Matematika juga. Karena kertas ulangan yang diberikan Yogi ada nama dari anak kelas empat. 

“Mungkin Ibu tahu, kalau aku suka berbuat curang. Pantas saja Ibu tiba-tiba menanyakan tentang ulangan Matematika,” keluh Dion. 

“Jangan-jangan ini jebakan?” cemas Yogi yang dijawab Dion dengan mengangkat kedua bahunya.  

Yogi yang duduk di sebelahnya mulai khawatir. Belum sempat Yogi berbicara, bel masuk berdentang. Wajah Dion dan Yogi semakin pucat. Jam pertama hari ini adalah pelajaran Matematika. Pasti Bu Juhar akan membahas tentang hasil ulang kemarin. Dion melirik ke arah pintu. Dilihatnya Bu Juhar yang tak lain ibunya sendiri mulai memasuki kelas. 

“Hari ini Ibu akan membagikan hasil ulangan kalian kemarin. Setelah ini kita akan bahas bersama ulangan kalian. Di mana letak kesalahan jawaban kalian,” terang Bu Juhar seraya membagikan hasil ulangan. 

Seketika Dion dan Yogi saling berpandangan dengan cemas. Bu Juhar pasti akan membahas jawaban yang salah milik semua murid kelas tiga. Termasuk milik Dion sendiri. 

Duh, semua teman-teman sekelas akan tahu nilai Dion sangat jelek. Bahkan kecurangannya akan terbongkar dengan sendirinya bila ia telah mencuri kunci jawaban ibunya. Itu artinya Dion harus bertanggung jawab dengan semua perbuatannya. 

Dion menunduk dengan wajah pucat. Dalam hati Dion hanya bisa berkata, “Maafkan kecurangan Dion, Ibu.”

 Tak terasa, air mata Dion menetes. Dion menangis. 

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Alby Syafie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 29 April 2018

0 Response to "Ulangan Dion"