TOP ARCHIEVES

Dongeng Lawas

Kumpulan Puisi

Pikiran Rakyat

Kamis, 31 Mei 2018

Bola Indonesia untuk Piala Dunia

MINGGU pagi, Ayah baru pulang dari luar kota. Karena Riki suka bermain bola, Ayah membawakan oleh-oleh sebuah bola istimewa. Bola resmi Piala Dunia. Sungguh, oleh-oleh yang tepat, mengingat hari ini pertandingan sepak bola terbesar di dunia itu dimulai. Riki senang menerimanya. 

”Wah! Terima kasih, Ayah,” ucap Riki kegirangan. 

”Sama-sama, Riki,” balas Ayah sambil tersenyum ramah.

Ayah senang. Dengan begitu, Riki jadi lebih semangat berolahraga. Karena olahraga itu penting agar tubuh tetap sehat dan tak mudah sakit-sakitan. 

Riki sudah tak sabar ingin bermain bola bersama teman-teman. Ia bergegas ke lapangan untuk memainkan bola barunya. 

Di lapangan, Iwan, Romli, Yanto, dan teman lainnya sedang asyik bermain bola. Riki menyapa mereka dari pinggir lapangan. 

”Hai, teman-teman! Lihat! Aku bawa bola baru, lo,” kata Riki dengan suara lantang. 

Seketika, teman-teman menghentikan permainan dan berkumpul di tengah lapangan bersama Riki.

”Wah, bagus sekali bolamu, Riki!” ucap Romli. 

”Bukankah ini bola Piala Dunia?” sela Yanto penasaran. 

Riki hanya mengangguk sambil tersenyum bangga. 

”Pasti beda dengan bola milik kita. Yuk, kita lanjut main bola sembari mencoba kelebihan bola istimewa ini!” ajak Iwan penuh semangat. 

Mereka pun bermain bersama. Benar kata Iwan, bola Riki benar-benar terasa berbeda dari bola yang biasa mereka mainkan. Bila ditendang, bola itu terasa lebih ringan, sehingga dapat melesat lebih kencang. Bahkan saat melayang tak goyah. 

Riki dan teman-teman bermain dengan semangat. Mereka saling menyerang, berusaha menyelakkan bola ke dalam gawang. Tapi penjaga gawang kedua kubu tak mau kalah. Penjaga gawang juga berupaya menghalau bola yang mengancam gawang mereka masing-masing. Sungguh, permainan bola yang seru. Mereka semua sangat menyukainya.

Ketika permainan selesai, mereka tampak puas dan beristirahat di pinggir lapangan. Sambil melepas lelah, mereka membicarakan tentang acara pembukaan Piala Dunia di Russia. 

”Aku jagokan Russia yang akan menjadi juara nantinya,” kata Iwan tiba-tiba.

”Kenapa Russia?” tanya Riki ingin tahu. 

”Pasti karena tuan rumah, kan? Ah, kalau aku Inggris,” sambar Yanto. 

”Boleh juga. Tapi aku punya tim favorit sendiri. Brazil. Bagaimana denganmu, Riki?” tanya Romli.

Riki bingung harus menjawab tim negara mana yang ia jagokan. Pikirnya, semua peserta Piala Dunia tak bisa dipandang remeh. Toh, negara-negara yang tampil, semuanya melewati seleksi yang ketat, kecuali Russia karena tuan rumah.

Riki tetap bingung menentukan negara mana jagoannya. Namun, ia akan tanya dahulu kepada Ayah, negara mana yang nantinya akan menjadi yang terbaik. Riki pun berjanji kepada teman-teman, besok ia bakal memberi tahu negara jagoannya itu.

***
SEPULANG dari lapangan, Riki menemui Ayah. Dengan menggedong bola, Riki duduk di samping Ayah yang sedang bersantai. 

”Apa Ayah punya tim favorit di Piala Dunia?” tanya Riki. 

Ayah tersenyum, lalu berkata, ”Indonesia.” 

Sontak Riki terkejut. Indonesia kan tidak ada dalam daftar peserta Piala Dunia 2018. Ah, rupanya Ayah bercanda. Riki tampak tak puas dengan jawaban Ayah. Tapi, sepertinya Ayah tahu bagaimana cara menjelaskan supaya Riki mengerti dan bangga akan negaranya. 

”Indonesia memang belum mendapat kesempatan berlaga di sana, Riki. Meski begitu, nama Indonesia tetap ada di ajang Piala Dunia, Russia. Yaitu, lewat bola ini,” jelas Ayah sembari memegang bola di tangan Riki. 

”Bola ini?” gumam Riki dengan melihat bolanya. 

Sekali lagi, Riki terkejut. Ia tak menyangka ternyata di bolanya terselip tulisan made in Indonesia itu artinya benar, bola yang akan dimainkan di Piala Dunia memang bola berasal dari Indonesia. Riki pun bangga seketika. Akhirnya ia tahu negara mana yang akan dijagokannya.

***
KEESOKAN paginya, Riki bertemu Iwan, Romli, Yanto di sekolah. Ia segera memberi tahu negara jagoannya. Ketiga temannya begitu penasaran dan siap mendengarkan dengan seksama. 

”Ayo, katakan, Riki! Negara mana itu?” cetus Iwan tak sabar.

Begitu pun Romli dan Yanto. Mereka mengangguk bersamaan, setuju dengan ucapan Iwan. 

”Aku jagokan Indonesia sampai di pertandingan final,” kata Riki dengan bangga. 

Romli, Iwan, dan Yanto terbengong-bengong. Tapi Riki tertawa. 

Tak lama kemudian Riki menjelaskan bahwa nama Indonesia benar ada di Piala Dunia. Namun, lewat bola. Iwan, Romli, dan Yanto sangat terkejut. Mereka tak menduga kalau bola yang mereka mainkan kemarin adalah bola buatan Indonesia. Iwan, Romli, dan Yanto senang sekali. Ternyata Indonesia turut tampil di Piala Dunia meski lewat bola. 

”Masuk akal, Riki. Bola itu akan sampai di pertandingan final,” ucap Yanto membenarkan. 

Riki, Yanto, Romli, dan Iwan saling berpandangan. Kemudian mengangguk pelan berbarengan, lalu sama-sama berseru, ”Aku bangga dengan Indonesia!”(49)

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Anton Dwi Ratno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 27 Mei 2018
 
Copyright © 2010- | About | Sitemap | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia
Literasi Nusantara | Ethnic | Esay | Review | Short-Stories | Home