Cerita Nenek | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/KID

Cerita Nenek Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on May 09, 2018 Rating: 4,5

Cerita Nenek

Lagi-lagi gaduh!

“Buruan, aku telat nih!” teriak Edo dari depan kamar mandi.

“Salah sendiri bangun kesiangan!” Eda menghentikan senandungnya untuk menyahut, lalu kembali bersenandung.

“Hentikan dong, telingaku capek dengar suaramu!”

“Masa bodoh, tutup saja kupingmu!”

Hiruk-pikuk macam itu terdengar tiap pagi, kecuali hari Minggu dan hari libur. Penyebabnya adalah kebiasaan Eda yang selalu bernyanyi atau bersenandung tiap kali ke kamar mandi. Kebiasaan itu membuat dia terlalu lama berada di kamar mandi. Tentu tidak apa-apa jika di rumah tersebut ada lebih dari satu kamar mandi. Celakanya, hanya ada satu kamar mandi untuk ayah, ibu, dan dua anak kembar itu!

Ibu pusing menghadapi Eda. Anak manis tersebut selalu punya alasan mengapa mesti bersuara di kamar mandi.

“Biar nggak dingin! Ibu tahu sendiri kan, brrr … dinginnya air waktu pagi!”

“Ibu percaya tidak? Kalau Eda nyanyi keras-keras, tak ada kecoak yang berani menampakkan diri!”

Dan seterusnya, dan sebagainya.

Ibu tidak kalah bingung berhadapan dengan Edo. Anak laki-laki periang itu tak berhenti merengek dibuatkan kamar mandi lagi.

“Do, Ayah Ibu kan baru saja menggunakan banyak uang untuk membeli rumah ini. Kecil-kecil begini ini rumah kita sendiri. Daripada dulu, kita tinggal di rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan lain. Sabar ya, jika sudah ada uang, pasti dibuatkan.”

“Ah, Ibu …!”

Anak tersebut tak pernah kehabisan kata-kata untuk meminta.

Hari Sabtu Ayah pulang kantor lebih awal. Yang menggembirakan, kata Ayah Nenek akan datang. Cihui, bakalan ada banyak oleh-oleh dan cerita asyik!

Sore hari Nenek datang. Seru, akhir pekan itu benar-benar menyenangkan! Hari Minggunya pun tak kalah mengasyikkannya.

Namun, apa yang terjadi keesokan harinya? Akankah dua bersaudara tersebut membuat keributan juga? Tidak malukah mereka pada Nenek?

Nenek ke luar rumah untuk jalan-jalan pagi itu. Oleh karena itu, ketika Eda melakukan kebiasaannya setiap kali ke kamar mandi, dengan keras Edo memperingatkan. Dan apa yang terjadi pada hari-hari sekolah sebelumnya pun berlangsung kembali. Persis seperti film yang sedang diputar ulang. Bagaimanapun Ibu sedikit lega karena Nenek tak perlu mendengar betapa gaduhnya kedua cucu kesayangan Nenek itu.

Saat makan pagi, Nenek sudah kembali dan bergabung makan bersama mereka.

Ketika sedang asyik menyuap makanan, tiba-tiba Nenek bercerita.

“Kalian tahu? Tadi, saat Nenek melintas di jalan belakang situ, Nenek mendengar ada anak yang bertengkar. Aduh, seru sekali! Kok ada ya anak yang suaranya keras sekali seperti itu?!!”

Tanpa diberi aba-aba, Eda dan Edo menghentikan suapan mereka.

Nenek tetap asyik dengan makanan dan ceritanya.

“Sepertinya sih, yang ribut itu anak laki-laki dan perempuan. Kira-kira … sebesar kalian.” Nenek memandang kedua cucunya.

Dua anak kembar tersebut menunduk, tapi tak berani menatap Nenek.

“Nenek membayangkan, betapa sedihnya bila Nenek yang menyayangi mereka tahu. Nenek sungguh bersyukur, untung bukan cucu Nenek yang bertingkah seperti itu!”

Eda dan Edo saling curi pandang. Mereka tak berani bersuara sampai makanan di piring mereka habis. Mereka tidak tahu, apakah Nenek sungguh-sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Yang jelas, sejak Selasa pagi tak terdengar lagi nyanyian atau senandung Eda di kamar mandi. Bahkan ketika Nenek sudah pulang sekalipun. *****


Rujukan:
[1] Disalin dari karya L. Heni S.
[2] Pernah tersiar di "Majalah Bobo" edisi No. 18/XXIX/01

0 Response to "Cerita Nenek"