Kolak Ramadan | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/KID

Kolak Ramadan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on May 28, 2018 Rating: 4,5

Kolak Ramadan

DENGAN semangat empat lima, Ardi bilang bahwa dirinya sanggup menggantikan ibu sore ini. Mata ibu terlihat sembap. Sisa-sisa kesedihan terpancar di wajahnya. 

“Benar Ardi bisa?” tanya ibu. 

Bayangan ayah yang sedang diinfus berkelebat di benak Ardi. Semua gara-gara kecoak. 

Tadi siang saat ibu memasak kolak, seekor kecoak keluar dari bawah kompor. Ibu yang takut dengan binatang tersebut spontan berteriak. Ayah mengejar kecoak sambil membawa penebah. Malang tak dapat ditolak, ayah terpeleset dan kepalanya membentur sudut wastafel hingga pingsan. Dokter bilang bahwa mereka beruntung segera membawa ayah ke rumah sakit, karena jika terlambat sedikit saja, bisa berakibat fatal. 

“Ardi....” Suara ibu membuyarkan lamunan Ardi. Ardi mengangguk mantap. 

“Sebenarnya ibu enggak tega. Tugasmu itu seharusnya belajar, bukan menggantikan ibu jualan seperti ini.” Ibu menyusut air matanya dengan sapu tangan. 

Ardi tersenyum. “Ibu tenang saja. Lagian cuma untuk sore ini, kok. Nanti malam kan Mbak Rasti datang dari luar kota, jadi besok Mbak Rasti yang jualan. Ardi bisa menemani ibu jagain bapak di rumah sakit.” 

“Alhamdulillah, ibu bangga punya anak seperti kamu dan mbakmu. Selalu sigap membantu tanpa diminta.” Ibu mengelus kepala Ardi. “Ya sudah, tapi kamu harus hati-hati, ya. Sepuluh me-nit sebelum azan magrib harus pulang meskipun kolaknya masih ada. Yang penting, Ardi tidak telat buka puasa dan salat jemaah di masjid.”

 Ardi mengangguk. 

“Ini ada empat puluh bungkus kolak. Satu bungkus harganya tiga ribu rupiah.” 

“Siap, Bu.” Ardi menempelkan jemarinya ke kening dan mengambil sikap hormat seperti saat upacara. Ibu tertawa melihatnya. 

Setengah jam kemudian, Ardi sudah siap dengan dagangannya di pasar Ramadan kompleks perumahan. Banyak ibu tetangga yang juga seperti dirinya, mencari rezeki saat bulan puasa dengan cara berjualan takjil atau lauk untuk berbuka. 

Lalu lintas mulai padat. Banyak pengemudi motor, mobil, ataupun pejalan kaki yang jalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan setiap sore sambil menunggu waktu berbuka. Ardi bersemangat menawarkan dagangannya. 

“Kolak Ramadan... roti, agar-agar, kurma, dan siwalan. Kolak Ramadan... roti, agar-agar, kurma, dan siwalan. Ayo dibeli, tiga ribu saja.” 

Seorang bapak datang sambil meng- gandeng anaknya. “Empat bungkus harganya berapa, Dik?” tanya bapak tersebut. 

“Satu bungkus tiga ribu, Om. Jadi totalnya dua belas ribu rupiah.” Ardi mengangsurkan tas plastik berisi empat bungkus kolak ke bapak tersebut. 

Ardi kembali berteriak menawarkan kolak. Kali ini seorang ibu cantik turun dari mobil dan menuju mejanya. 

“Ardi, saya beli tiga puluh, ya.” Ibu tersebut menyodorkan lipatan uang seratus ribu. 

“Oh, i-iya, Bu Nelly.” Ardi tergeragap karena girang sekali. Ia segera memasukkan kolak-kolak ke dalam tas plastik besar. Ardi menyodorkan kembalian sepuluh ribu rupiah seraya mengucapkan terima kasih. 

Sepuluh menit menjelang waktu berbuka. Kolaknya tinggal enam bungkus. Ardi menghitung uang hasil jualannya. “Tiga puluh empat kali tiga ribu. Seratus dua ribu.” Ia terbelalak. Ternyata ada dua lembar uang seratus ribuan dalam satu lipatan dan selembar dua ribuan. 

Wah, rezeki nomplok. Bisa buat tambahan biaya rumah sakit ayah, nih, batinnya. Bu Nelly pasti enggak tahu kalau uang yang terlipat tadi ada dua lembar. Lagian, uang seratus ribu enggak ada artinya buat Bu Nelly yang kaya. Ardi melangkah pulang dengan riang. 

“Ardi harus jadi anak saleh, ya. Jangan pernah mengambil hak orang lain meskipun kita hidup kekurangan.” Nasihat ayah setiap mau tidur tiba-tiba terngiang di telinga Ardi. Hati kecilnya berontak. Beberapa saat kemudian, ia menghela napas , lalu berbalik menuju rumah Bu Nelly. 

Ardi menyerahkan kelebihan uang dan menceritakan semuanya ke Bu Nelly. Ia juga meminta maaf karena sempat bimbang dan hendak mempergunakan uang tersebut untuk tambahan biaya berobat ayahnya. 

Bu Nelly tersenyum mendengar cerita Ardi. “Kamu benar-benar anak yang jujur. Omong-omong, selain lezat, kolakmu singkatannya unik, loh. Kolak Ramadan, roti, agar-agar, kurma dan siwalan. Kalau boleh tahu, idenya siapa itu?” 

“Oh, itu saya yang usul ke ibu, Bu Nelly. Biar mudah diingat. Kebetulan singkatannya pas dengan nama bulan puasa.” 

“Wah, Ardi memang kreatif.” Bu Nelly mengacungkan jempolnya. “Oh iya, besok lusa di rumah saya ada acara buka bersama lagi. Tolong bilang ke ibumu ya, saya pesan kolaknya seratus porsi.” 

Ardi mengangguk dan tersenyum lebar. Ia bersyukur dalam hati. Allah langsung mengganti kejujurannya dengan rezeki yang berlipat-lipat di bulan mulia ini. Mulai sekarang, Ardi berjanji selalu berlaku jujur apa pun kondisinya. 

 Gresik, 12 Juni 2017

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Elisa DS,
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 27 Mei 2018

0 Response to "Kolak Ramadan"