Membangun Kincir Air Bersama | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/KID

Membangun Kincir Air Bersama Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on May 21, 2018 Rating: 4,5

Membangun Kincir Air Bersama

PAGI ini Ridwan dan ayahnya bersiap mengikuti gotong-royong yang diadakan oleh Kelompok Tani di desa Manggungsari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka akan membangun kincir air sederhana di Sungai Citanduy.

“Ayah, untuk apa dibangun kincir air?” tanya Ridwan.

“Kincir air akan digunakan untuk membantu mengairi sawah akibat saluran irigasi yang mengering saat musim kemarau,” jawab Ayah.

“Bagaimana caranya, Ayah?” tanggap Ridwan penasaran.

“Nanti air sungai diambil oleh potongan bambu yang menempel di kincir. Potongan bambu akan terus berputar karena dorongan air sungai. Saat bambu berada di atas, air akan ditumpahkan ke talang untuk diteruskan ke sawah,” jelas Ayah dengan sabar.

Ridwan manggut-manggut mendengarnya.

“Keuntungan penggunaan kincir air ini adalah hemat energi, hemat biaya, dan ramah lingkungan, karena tidak menggunakan listrik,” tambah Ayah.

Sesampainya di sungai, Ridwan melihat sudah banyak warga desa yang berkumpul untuk mengerjakan kincir air.

“Wah, ramai sekali yang mau ikut gotong-royong,” seru Ridwan takjub.

Tak lama kemudian, bapak-bapak dan para pemuda desa mulai membuat kerangka kincir. Mereka membagi tugas. Ada yang mengukur panjang bambu dan kayu. Ada yang memotong dengan gergaji. Ada juga yang memaku dan mengikat kerangka kincir. Semua dilakukan secara hati-hati agar kincir seimbang dan berputar pada porosnya dengan sempurna.

Menjelang siang, pekerjaan dihentikan sementara untuk beristirahat. Ibu-ibu desa sudah menyiapkan makanan dan minuman. Walau dengan hidangan sederhana, mereka menikmatinya bersama-sama.

“Hebat ya, Ayah. Membangun kincir air itu termasuk pekerjaan berat, tapi semua jadi terasa ringan dan lebih cepat karena gotong-royong,” kata Ridwan.

“Seperti kata pepatah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Pekerjaan yang berat akan terasa ringan jika dilakukan bersama-sama,” tanggap Ayah.

Pekerjaan dilanjutkan kembali setelah mereka semua cukup beristirahat. Butuh waktu seharian untuk menyelesaikan membangun kincir air. Setelah semua bagian kincir terpasang, mereka mencoba untuk menjalankannya.

Rasa lelah mereka terbayar ketika kincir air dapat bekerja dengan baik. Air dengan mulus naik dan jatuh ke talang yang sudah disediakan. Sawah yang mengering akhirnya bisa mendapatkan pengairan.

Segenap masyarakat desa Manggungsari bersorak gembira. Kincir air tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani, karena dengan kincir air kegiatan pertanian bisa terus berjalan dengan lancar.

“Dengan bergotong-royong membuat kincir ini, kita bisa memajukan kesejahteraan bersama,” jelas Ayah kepada Ridwan. Putranya itu menganguk-angguk setuju. *

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 20 Mei 2018

0 Response to "Membangun Kincir Air Bersama"