Talita dan Seekor Laba-Laba | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/KID

Talita dan Seekor Laba-Laba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on May 07, 2018 Rating: 4,5

Talita dan Seekor Laba-Laba

HARI ini di sekolah Talita ada pelatihan menulis untuk anak sekolah dasar. Talita yang memang sudah sejak dulu suka menulis, langsung semangat dengan adanya pelatihan tersebut. Dengan saksama dia memerhatikan apa saja yang perlu dilakukan jika ingin menulis sebuah cerita, juga bagaimana cara mengirimkannya ke koran. Talita juga tidak lupa mencatat hal-hal yang dia rasa penting. 

Talita memang baru kelas enam sekolah dasar, tapi karena sejak kecil, dia sudah terbiasa dibelikan orang tuanya berbagai macam buku cerita, Talita jadi mulai tertarik untuk membuat cerita sendiri. Dia memiliki mimpi, semoga suatu hari tulisannya bisa dimuat di koran atau di majalah kesukaannya. 

Sesampainya di rumah, setelah berganti pakaian, makan, dan salat, Talita mencoba mempraktikkan apa yang dia pelajari tadi. Dia duduk di kursi bela- jarnya dan mulai menulis. 

Duch ... kok sulit banget, sih.” Keluh Talita setelah setengah jam berusaha menulis, tapi belum ada satu pun kalimat yang dia tulis. 

Dia menatap kertasnya yang kosong. Entah kenapa idenya tiba-tiba buntu. Padahal tadi setelah kelas pelatihan, Talita sudah menemukan banyak ide di kepalanya. 

Akhirnya, Talita memutuskan untuk istirahat dulu. Dia memilih membaca majalah Bobo yang baru dia beli. Dia mau belajar cara menulis yang baik dan disukai redaktur majalah. 

Malam harinya, setelah belajar, Talita kembali mencoba menulis. Dan kali ini dia berhasil menulis dua cerita. 

“Asyik ... akhirnya berhasil.” Talita berucap dengan girang. 

Talita langsung semangat untuk menyalin tulisan itu ke komputer. Dia akan mengirim tulisannya itu pada salah satu koran. 

“Semoga kali ini cerpenku dimuat.” Doa Talita sungguh-sungguh. 

Selama ini, Talita memang sangat rajin menulis cerita dan dikirim ke berbagai koran, tapi ternyata belum ada satu pun naskahnya yang berhasil tayang. Meski begitu, Talita belum menyerah juga. Setiap hari jika ada waktu, Talita pasti akan menulis atau membaca. 

Seperti pagi ini, ketika jam pelajaran Matematika kosong, Talita memanfaatkan waktunya dengan menulis. 

“Kamu serius ingin jadi penulis?” tanya Luluk teman satu bangku Talita di sekolah. 

“Tentu saja. Kalau tidak mana mungkin aku ikut pelatihan kemarin?” ucap Talita dengan tersenyum.    
“Kamu keren, Ta. Masih kecil kamu su- dah punya mimpi.” Luluk mengacungkan ibu jarinya. 

Trus bagaimana? Sudah ada tulisan kamu yang dimuat di koran?” Luluk penasaran. Selama ini Talita memang sering bercerita padanya. Luluk juga sering membaca cerita-cerita buatan Talita. 

“Belum ada.” Talita menggeleng lemah.  “Sepertinya tulisanku belum terlalu bagus.” Lanjut Talita. 

“Siapa bilang tulisan kamu jelek? Aku baca tulisanmu bagus-bagus, Ta. Aku saja tidak bisa menulis seperti itu.” 

“Kamu harus semangat terus, Ta. Aku yakin kamu bisa. Kamu harus seperti laba-laba, Ta.” 

“Laba-laba?” Talita mengerutkan dahinya. 

“Kenapa harus seperti laba-laba?” Talita sungguh bingung dengan perumpaan sahabatnya itu. 

Bukannya menjawab Luluk malah ter- tawa, membuat Talita semakin bingung. 

“Nggak seru ah, kalau aku jawab. Itu buat PR kamu saja, Ta.” Luluk tertawa semakin lebar. 

“Coba kamu amati laba-laba. Nanti kamu pasti paham.” Luluk tersenyum jahil. 

“Dan siapa tahu, malah bisa jadi ide kamu untuk menulis cerita.” Lanjut Luluk. 

Penasaran dengan apa yang dikatakan Luluk, Talita pun mulai memerhatikan laba-laba, bahkan ketika dia sampai di rumah. 

Kenapa dia harus seperti laba-laba? Talita terus bertanya dalam hati. Talita duduk di meja belajarnya bersiap untuk belajar, sebelum menulis cerita. Saat sedang asyik berpikir itulah, tiba-tiba dia mendengar suara keluhan ibunya. 

“Aduh ... laba-laba ini tidak ada lelahnya, ya? Sepertinya baru kemarin dibersihkan, tapi dia sudah membangun rumah baru.” 

 Seketikanya itu Talita langsung tertawa. Sekarang dia paham kenapa Luluk berkata seperti itu. 

“Laba-laba itu memiliki sifat tidak mudah menyerah. Meski rumahnya dirusak berkali-kali, tapi laba-laba kembali merajut rumahnya lagi dan lagi.” Gumam Talita.  

“Dan aku harus terus menulis lagi dan lagi, meski gagal dan belum diterbitkan di koran.” Talita tersenyum. 

Tiba-tiba dia mendapat ide baru untuk tulisannya. “Terima kasih Luluk.” Gadis berkepang itu, segera mengetik naskahnya. 

Tapi baru beberapa paragraf, dia mendengar suara ibunya memanggil, meminta dia ke ruang depan.  

“Wah ... selamat, Sayang. Kamu hebat sekali.” 

Ibunya menyodorkan sebuah pa- ket yang baru datang pos, yang ternyata berisi majalah anak, yang di sana tertera sebuah cerita karya Talita AN berjudul “Boneka dari Ibu”.

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Aratnani Latifah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 6 Mei 2018

0 Response to "Talita dan Seekor Laba-Laba"