Pelajaran Cindy tentang Ikhlas | Cerita Anak dan Dongeng Bocah | Kliping Sastra Indonesia

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/KID

Pelajaran Cindy tentang Ikhlas Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on June 04, 2018 Rating: 4,5

Pelajaran Cindy tentang Ikhlas

CINDY menyalami tangan ibunya dengan wajah murung. “Cindy berangkat sekolah ya, Bu.” 

“Hati-hati ya, Nak,” ujar ibu sambil mengelus kepala Cindy. Pagi itu Cindy tidak berpamitan de- ngan ayahnya karena ayahnya hanya mengantarkan Cindy dengan sebuah sepeda tua. Cindy merasa sangat ke- cewa. Padahal ayahnya telah berjanji untuk mengantarkannya ke sekolah dengan motor. 

Cindy tidak tahu yang tengah terjadi pada ayahnya. Ayah Cindy baru saja mengundur- kan diri dari kantornya karena sesuatu hal. Jadi, motor yang selama ini dipakai ayahnya bekerja dan mengantar- kannya ke sekolah harus dikembalikan. 

Seperti biasa, sepulang sekolah Cindy tetap dijemput ayahnya. Tapi kali ini tidak lagi dengan motor, melainkan dengan sebuah sepeda tua. Cindy pun kembali murung dan meminta ayahnya pulang saja dengan berbohong kalau ia ada pelajaran tambahan. 

“Ayah hari ini Cindy ada pelajaran tambahan. Jadi, ayah pulang saja duluan.” 

Dengan mata yang sendu ayah Cindy pun pergi dan berkata, “Kalau begitu nanti Cindy hati-hati ya pulangnya.” 

Ayah Cindy sadar, bahwa Cindy malu dengan keadaan ayahnya yang miskin saat ini. Setelah beberapa jauh dari sekolah, tanpa disadari Sang Ayah diserempet oleh sebuah mobil. Untung saja ayahnya Cindy tidak terluka parah. Hanya sedikit terkilir di bagian kaki kanan. 

Sesampainya di rumah, Cindy langsung memasuki kamarnya. Setelah beberapa lama masuklah ayahnya Cindy ke dalam kamar. 

“Cindy, ayah minta maaf karena tidak bisa lagi mengantar dan menjemput Cindy dengan motor,” kata Ayah. 

“Tidak apa-apa, Yah,” Cindy menjawab dengan nada kecewa. 

“Hanya saja ayah minta kepada Cindy, kita hidup di dunia ini harus penuh keikhlasan. Berserah diri kepada Allah swt. Doakan saja supaya ayah murah rezeki,” sambil berjalan sedikit pincang ayah meninggalkan kamar Cindy. 

Melihat ayahnya yang berjalan sedikit terpincang-pincang Cindy bertanya, “Ayah, kaki ayah kenapa? Kenapa ayah berjalan pincang?” 

“Kaki ayah tidak apa-apa, hanya sedikit keram,” ujar Ayah. 

Perasaan Cindy mengatakan kalau ayahnya berbohong. Seharian Cindy memperhatikan gerak-gerik ayahnya. Barulah Cindy sadar kalau kaki ayahnya sedang terluka. Setelah bertanya kepada ibu, Cindy tahu kalau ayahnya diserempet mobil sepulang menjemputnya. Cindy merasa sangat bersalah . Andai saja waktu dijemput ia tidak menolak ajakan ayahnya , pasti sekarang kaki ayahnya tidak sakit. 

 Dengan bercucuran air mata Cindy berlari memeluk dan meminta maaf kepada ayahnya. 

“Ayah, Cindy minta maaf ya, Yah. Gara-gara Cindy menolak naik sepeda dengan ayah, ayah diserempet mobil.” 

“Ayah diserempet mobil karena ayah lengah, Nak. Bukan salahnya Cindy,” ujar Ayah sambil tersenyum. 

 Cindy terus memeluk ayahnya dengan erat. 

Keesokan harinya Cindy bersedia diantar dan dijemput ayahnya walau hanya dengan berjalan kaki. Begitu setiap harinya. Hingga suatu hari sepulang sekolah, Cindy tengah bersenda gurau dengan ayahnya. Tiba-tiba mereka melihat sebuah mobil sedang mogok. Mobil itu dikendarai oleh seorang wanita. 

Ayah Cind y merupakan seorang montir profesional. Ia pandai memperbaiki mobil. Ia pun membantu memperbaiki wanita tersebut. Dengan beberapa menit saja mobil itu bisa hidup kembali. Dari arah yang bersamaan berhenti sebuah mobil lagi di belakang mereka. Pengemudi mobil tersebut keluar, tak disangka- sangka ia merupakan teman lama ayah Cindy yang merupakan suami dari wanita yang mobilnya mogok tadi. 

Setelah berbincang cukup lama, mereka semua berpisah. Dengan wajah yang semringah Sang Ayah menggendong Cindy. 

“Alhamdulillah, Nak. Ayah mendapatkan pekerjaan baru. Pekerjaan yang lebih baik dari kantor yang sebelumnya. Alhamdulillah, Ya Allah.” 

Tanpa berbicara apa-apa, Cindy teringat nasihat ayahnya, kita hidup di dunia ini harus penuh keikhlasan. 

Mereka berdua pun berlalu pulang dengan air mata bahagia. 

Rujukan:  
[1] Disalin dari karya Vendo Olvalanda S
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" edisi Minggu, 3 Juni 2018

0 Response to "Pelajaran Cindy tentang Ikhlas"